Minggu, 13 Januari 2013

CARA PEMBENIHAN IKAN NILA HITAM

0 komentar



1. PENDAHULUAN

Ikan Nila Hitam adalah jenis ikan yang secara taksonomi termasuk spesies Oreochromis niloticus bleeker. Ikan Nila Hitam berasal dari sungai Nil di Uganda, pertama kali di impor dari Taiwan ke Indonesia tahun 1969 dan dikembangkan di danau. Tondano Sulawesi Utara yang selanjutnya menyebar ke seluruh Indonesia.

Ikan Nila Hitam merupakan jenis ikan air tawar yang mudah dikembangbiakan dan memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan lingkungan maupun kemudahan pemeliharaannya. Karena memiliki berbagai kelebihan dibanding jenis ikan lainnya, menjadikan Ikan Nila Hitam mudah sekali diterima masyarakat.

Selain kelebihan seperti disebutkan di atas, Ikan Nila Hitam relatif tahan dari serangan penyakit serta Ikan Nila Hitam termasuk hewan pemakan segala (Omnivora).

Saat ini ada beberapa jenis Ikan Nila yang beredar di Indonesia, yaitu :

1. Nila Hitam (T.69, Citralada, Gift dan Get);

2. Nila Merah(Hibrida).



2. SISTIMATIKA
Phillurin: Chordata
Subphillum: Vetebrata
Kelas; Pisces
Subkelas: Aconthoterigii
Suku: Cichlidae
Marga: Oreochromis
Spesies: Oreochromis niloticus

Ciri-ciri :

▪ Badan memanjang, bentuk tubuh. pipih, sisik besar dan kasar, kepala relatif kecil, garis Iinecalateralis terputus dan terbagi dua, yaitu bagian atas dan bawah, memiliki 5 buah sirip dengan rumus D.XVI.12; C.V.1.5; P.12 dan A.111.9.

▪ Banyak ditemukan di perairan tenang seperti danau, rawa dan waduk, dapat hidup pada salinitas 0 - 29 permil, suhu 14 - 38°C dan pH 5-11.

▪ Pemakan segala (Omnivora), sangat menyenangi pakan alami Rotifera, Daphnia Sp, Mobia Sp, Benthos dan Fitoplankton. Bisa diberi pakan tambahan berupa pellet, dedak halus dan lain-lain;

• Memijah sepanjang tahun dan mulai memijah umur 6 - 8 bulan. Seekor induk betina ukuran 200 - 400 gram dapatmenghasikan anak niencapai 400 - 500 ekor.



Perbedaan Jantan dan B etina:

A. Jantan :

■ Warna tubuh cerah dan memiliki satu buah lubang kelamin, yang bentuknya memanjang dan berfungsi sebagai tempat keluarnya sperma dan air seni;

■ Warna sirip memerah terutama pada saat matang kelamin.



B. Betina :

■ Warna tubuh agak pucat dan memiliki 2 (dua) buah lubang kelamin, lubang pertama. berada dekat anus, bentuknya seperti bulan sabit berfungsi sebagai tempat keluarnya telur.
Lubang ke dua berada dibelakangnya, bentuknya bulat yang berfungsi sebagai tempat keluarnya air seni.



3. PEMBENIHAN

Pembeniban Nila dapat dilakukan pada kolam tanah dengan konstruksi dasar kolam dibuat masing-masing 2 - 5% yang dilengkapi dengan kubangan 1,5 x 2 x 0,5 m atau pada bak semen/hapa.

Pada Kolam Tanah

• Persiapan kolam meliputi perataan tanah dasar kolam dan pemupukan dengan pupuk kandang 250 - 1000 gram/ m.2

■ Pemijahan di kolam tanah seluas minimal 500 m2, ke dalam air 60-100 cm;

■ Induk jantan dan betina dimasukkan bersama dengan padat tebar 1 ekor/m2. Perbandingan jantan dan betina 1: 3;

■ Selama pemijahan induk diberi pakan tambahan berupa pellet sebanyak 3 %/ hari. dari berat total ikan;

• Panen larva dilakukan dengan cara menangkap larva menggunakan sair halus atau sirib secara langsung, dipermukaan air kolam, terutama larva yang sedang bergerombol diasuh induknya. Pemungutan larva seperti ini bisa dilakukan setiap hari dan setelah berkumpul langsung ditebarkan ke kolam. pendederan I yang telah disiapkan 4 - 5 hari sebelumnya.



Pada Bak Semen/Hapa

■ Pemijahan dilakukan dalam bak semen/hapa ukuran/luas 24 - 48 m2, kedalaman air 60 - 80 cm;

■ Induk ditebar bersarna-sama dalam bak/hapa secara intensif yang dipanen bukan larva tetapi masih dalam bentuk telur. Pengambilan telur yang sedang dierami dalam mulut
induknya dilakukan setiap 10 hari sekali. Telur yang telah menjadi larva sesudah ditetaskan dibuat monosex, yaitu jantan atau betina, sesuai kebutuhan;

• Telur yang dipanen kemungkinan ada yang besar, yaitu telur utuh, sudah bermata dan berekor, larva sempurna. Setiap fasenya ditampung dalam wadah yang berbeda;

■ Telur ditetaskan dalam corong penetasan yang terbuat dari fiberglass, kain trilin. atau corong plastik Ke dalam corong penetasan diberi aliran air agar telur dapat bergerak;

• Telur menetas antara 3 - 7 hari. Telur yang tidak menetas berwarna putih dan harus dibuang setiap hari dengan cara disipon;

■ Dua hari setelah menetas, larva dipindahkan ke dalam bak tembok atau hapa ukuran 2 x 1 x 0,5 m yang dipasang secara berderet dengan kedalaman air 60 cm. Untuk ukuran bak/hapa seperti itu bisa ditebar larva sebanyak 2000 - 4000 ekor dan dipelihara selama 25-30 hari;

■ Selama dalam bak atau hapa diberi pakan pellet halus yang diberi hormon alpha methyl testosteron dosis 30%/hari pada awal pemeliharaan, komoditas dapat menurun hingga 12%.


Cara Pembuatan Pakan Berhormon :
■ Timbang pellet halus sebanyak 1 kg;
■ Timbang 17 Alpha Methyl Testosteron (60 mg/kg pakan);
■ Larutkan hormon tersebut dalam. alkohol 90% sebanyak 25 ml, tambahkan alkohol 70% sebanyak 300 - 400 ml, aduk sampai homogen;
• Masukkan larutan tersebut dalam pakan dan aduk sampai rata, kemudian diangin-anginkan sampai kering jangan dijemur);
• Bila sudah kering langsung diberikan. Agar awet, Masukkan pakan dalam plastik dan disimpan dalam. kulkas (-40 derajat Celcius). Dengan cara demikian pakan dapat tahan hingga 3 bulan;


■ Larva yang diberi pakan berhormon harus berukuran panjang total = 13 mm.

Selain melalui pakan, pengubahan kelamin dapat juga dilakukan melalui perendaman dalam larutan hormon 17 Alpha Methyl Testosteron selama 10 -12 jam.

4. PENDEDERAN
pendederan Ikan Nila Hitam dapat dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu pendederan I, II, III dan IV. Tempat pendederan di kolam atau, di bak dengan. perlakuan:

■ Persiapan kolam meliputi pengeringan, perbaikan
pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir,
■ Kolam dikapur dengan kapur tohor dan dipupuk dengan pupuk organik,
■ Larva ditebar pada pagi hari, dan diberi pakan tambahan setiap hari selama pendederan berlangsung.

Standar Produksi Kebul, Gabar, Belo dan Sangkal
Ikan Nila Hitam di Bak dan Kolam

Sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008

BUDIDAYA IKAN NILA GIFT

0 komentar

BUDIDAYA IKAN NILA GIFT
(Oreochromis niloticus bleeker)


1. PENDAHULUAN
Ikan Nila GIFT (Oreochromis niloticus bleeker) merupakan jenis ikan air tawar yang mudah dikembangbiakan dan toleransinya yang tinggi terhadap perubahan lingkungan maupun kemudahan pemeliharaannya. Rasanya cukup gurih dan d i gemari masvarakat Indonesia.

jenis Ikan Nila diantaranya Citralada, tralada, lokal dan Nila GIFT yang masuk ke Indonesia pada tahun 1984 dan 1996 dari ICLARAM Philipina melalui Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (Balitkanwar).

Teknik pembesaran Ikan Nila terapannya sangat mudah dilakukan sekali, baik dilakukan. skala rumah tangga atau skala besar (perusahaan). Tempatnya pun dapat dilaksanakan pada kolam tanah, kolam tembok dan Keramba jaring Apung (KJA).

Untuk pemasarannya sangat luas baik dalam negeri maupun luar negeri (ekspor) seperti masyarakat Jepang dan Singapura, terutama ukuran yang berat badannya di atas 500 gram. Bagi konsumsi dalam negeri akan banyak menunjang usaha perbaikan gizi keluarga.

Dilihat dari prospeknya, baik dalam maupun luar negeri sangat menjanjikan, sehingga perlu langkah yang pasti untuk meningkatkan produksi agar kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri dapat terpenuhi.



PEMBESARAN IKAN NILA GIFT

Teknik pembesaran Ikan Nila GIFT terapannya ada. 3 (tiga) macam, yaitu :

A. Monoculture (Pemeliharaan Tunggal).

Luas lahan kolam pembesaran bervariasi, tergantung lahan yang tersedia. Dapat berupa kolam tanah, kolam. berdinding tembok, Kolam Air Deras (KAD) dan Keramba Jaring, Apung (KJA).

Air yang digunakan untuk pemeliharaan harus bebas polusi baik yang berasal dari limbah industri, pertanian maupun Limbah rumah tinggal. Debit air 1- 5 It/ detik untuk luas selahan 100 m2.


B. Polyculture (Pemeliharaan Campuran dengan Ikan lain).

Pemeliharaan Ikan Nila dapat juga dilakukan secara polyculture (campuran) dengan jenis ikan lain, syaratnya ikan yang dimasukkan tidak merupakan pesaing (kompetitor) atau pemangsa (predator) bagi ikan Nila. jenis serta prosentase masing-masing ikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :









C. Terpadu Longyam(BalongAyam) dan Unggas lainnya.

Untuk meningkatkan produksi, pemeliharaan Ikan Nila dapat dilakukan bersama dengan pemeliharaan unggas. Berdasarkan dari pengalaman yang sudah banyak dilakukan, pemeliharaan Ikan Nila yang menguntungkan bila dipadukan dengan ayam petelur.


3. PERSIAPAN KOLAM

Persiapan Kolam pemeliharaan Ikan Nila meliputi :
a. Pengeringan kolam;
b. Perbaikan pematang, saluran pemasukkan dan pengeluaran;
c. Pengapuran dengan ukuran 25-1000 gram/m2;
d. Pemupukan dengan pupuk kandang 500 gram/ M2, urea 15 gram/ m2 dan TSP gram/ m2.;
e. Pengisian air kolam;
f. Dapat dilakukan penyemprotan dengan pestisida;
g. Untuk mencegah h.ewan/ ikan lain masuk, maka dapat dipasang saringan pada pintu masuk air;
h. Masukkan air sampai kedalaman 80 - 150 cm, kemudian tutup pintu pemasukkan dan pengeluarannya, biarkan air tergenang;
i. Penebaran Ikan Nila dilakukan setelah 5 - 7 hari pengisian air kolam.


4. PENEBARAN BENIN IKAN NILA

Ukuran benih Ikan Nila yang disebarkan berukuran 8 - 12 cm atau ukuran berat 30 gram/ ekor dengan padat tebar 5 - 10 ekor/ m2 serta lama pemeliharaan, 6 bulan hingga ukuran berat Ikan Nila mencapai 400 - 600 gram/ekor. Atau juga, untuk padat penebaran benih Ikan Nila dapat dilihat di bawah ini :











5. PEMBERIAN MAKANAN
Komposisi makanan yang diberikan untuk Ikan Nila selain makanan alami dapat diberikan makanan tambahan. yang diusahakan secara intensif, yaitu berupa dedak, ampas kelapa, pellet atau sisa-sisa makanan dapur.

• Pada dasarnya pemberian pakan terdiri dari:
• Protein 20-30%;
• Lemak 70% (maksimal.);
• Karbohidrat 63 - 73%.
• Pakanyaberupa hijau-hijauan diantaranya adalah :
• Kaliandra;
• Kalikina atau kecubung;
• Kipat,
• Kihujan.


6. PENYAKIT

Penyakit Ikan Nila yang, paling serius adalah yang disebabkan oleh lingkungan dan keadaan yang tidak menyenangkan, seperti terlalu padat, kekurangan makanan, penanganan yang kurang baik dsb. Penanggulangan yang paling baik dan efektif dengan cara memberikan kondisi yang lebih baik pada kolam ikan tersebut.

Sekali kolam ikan terlanda penyakit yang, serius biasanya terlambat untuk melakukan tindakan apapun. Penyembuhan dengan memberikan antibiotic atau fungisida ke seluruh kolam memerlukan biaya yang cukup mahal.

Oleh karma itu melakukan pencegahan akan lebih murah dibandingkan dengan melakukan pengobatan, yaitu dengan jalan lain melakukan pengeringan pada kolam dan melakukan penyiapan dari permulaan.


7. PEMANENAN

Setelah masa pemeliharaan 4 - 6 bulan, Ikan Nila dapat dipanen. Pada saat panen total ukuran ikan bervariasi di atas 50 gram/ ekor.

Sistem pemanenan dapat juga dilakukan secara bertahap, dimana hanya dipilih ukuran konsumsi (pasar). Pada tahap pertama dengan menggunakan jaring dan setiap bulan berikutnya secara bertahap.

Teknik memanen yang paling mudah dan murah dengan cara mengeringkan kolam secara total atau sebagian. Bila ikan dipanen secara keseluruhan, maka kolam dikeringkan sama sekali. Akan tetapi apabila akan memanen sekaligus maka hanya sebagian air yang dibuang.

Selama panen air segar perlu dialirkan ke dalam kolam untuk mencegah agar ikan tidak banyak yang mati. Ikan akan berkumpul di bak-bak (kubangan) penangkapan atau dalam saluran, kemudian diserok/ditangkap.

Setelah panen selesai, kolam pemeliharaan dikeringkan dan dilakukan persiapan kembali untuk pemeliharaan berikutnya.

sumber : Dinas Perikanan Provinsi Jabar, 2008

CARA PEMIJAHAN LELE SANGKURIANG

0 komentar
I. PENDAHULUAN
Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa.




Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan : 1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah dan 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.
Pengembangan usaha budidaya ikan ini semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan penyakit. Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas. Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah.
Penurunan kualitas ini dapat diamati dari karakter umum pertama matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit dan nilai FCR (Feeding Conversation Rate). Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo, Balai Pengembangan Benih Air Tawar (BPBAT) Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk manghasilkan lele dumbo strain baru yang diberi nama lele ”Sangkuriang”.
Perekayasaan ini meliputi produksi induk melalui silang-balik (tahun 2000), uji keturunan benih dari induk hasil silang-balik (tahun 2001), dan aplikasi produksi induk silang-balik (tahun 2002-2004). Hasil perekayansaan ini (lele sangkuriang) memiliki karakteristik reproduksi dan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan lele dumbo yang saat ini beredar di masyarakat.
Budidaya lele sangkuriang (Clarias sp) mulai berkembang sejak tahun 2004, setelah dirilis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, dengan Nomor Kepmen KP 26/Men/2004. Teknik budidaya lele sangkuriang tidak berbeda dengan lele dumbo, mulai dari pembenihan sampai pembesaran.
II. TEKNIK PEMIJAHAN LELE SANGKURIANG
2.1. Pematangan Gonad
Pematangan gonad lele sangkuriang dilakukan di kolam tanah. Caranya, siapkan kolam ukuran 50 m2, keringkan selama 2-4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam, isi air setinggi 50-70 cm dan alirkan secara kontinyu, masukkan 300 ekor induk ukuran 0,7-1,0 kg, beri pakan tambahan berupa pellet khusus lele dumbo sebanyak 3% setiap hari.
Catatan: induk jantan dan betina dipelihara terpisah.
2.2. Pematangan di bak
Pematangan gonad juga bisa dilakukan di bak. Caranya, siapkan baktembok ukuran panjang 8m, lebar 4m dan tinggi 1m; keringkan selama 2-4 hari, isi air setinggi 80-100 cm dan alirkan secara kontinyu, masukkan 100 ekor induk, beri pakan tambahan (pellet) sebanyak 3 persen/hari.
Catatan: induk jantan dan betina dipelihara terpisah.
2.3.Seleksi
Seleksi induk lele sangkuriang dilakukan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh.
Tanda induk betina yang matang gonad :
- perut gendut dan tubuh agak kusam
- gerakan lamban dan punya dua lubang kelamin
- satu lubang telur satu lubang kencing
- alat kelamin kemerahan dan agak membengkak
Tanda induk jantan yang matang gonad :
- gerakan lincah, tubuh memerah dan bercahaya
- punya satu lubang kelamin yang memanjang, kemerahan, agak membengkak dan berbintik putih.
2.4. Pemijahan dan Pemeliharaan Larva
Pemijahan ikan lele sangkuriang dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu : pemijahan alami (natural spawning), pemijahan semi alami (induced spawning) dan pemijahan buatan (induced/artificial breeding). Pemijahan alami dilakukan dengan cara memilih induk jantan dan betina yang benar-benar matang gonad kemudian dipijahkan secara alami di bak/wadah pemijahan dengan pemberian kakaban. Pemijahan semi alami dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara alami. Pemijahan buatan dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikkan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara buatan.
  1. Pemijahan Alami
- Siapkan bak berukuran panjang 2m, lebr 1m, dan tinggi 0,4 m
- Keringkan selama 2-4 hari
- Isi air setinggi 30 cm dan biarkan mengalir selama pemijahan
- Pasang hapa halus seusai ukuran bak
- Masukkan ijuk secukupnya
- Masukkan 1 ekor induk betina yang sudah matang gonad pada siang atau sore hari
- Masukkan pula 1 ekor induk jantan
- Biarkan memijah
- Esok harinya tangkap kedua induk dan biarkan telur menetas di tempat itu.
Hasil pemijahan alami lele sangkuriang biasanya kurang memuaskan. Jumlah telur yang keluar tidak banyak.
B. Pemijahan Semi Alami
- Perbandingan induk jantan dan betina 1:1 baik jumlah maupun berat
- Penyuntikkan langkahnya sama dengan pemijahan buatan
- Pemijahan langkahnya sama dengan pemijahan alami
C. Pemijahan Buatan
Pemijahan buatan memerlukan keahlian khusus. Dua langkah kerja yang harus dilakukan dalam sistem ini adalah penyuntikkan, pengambilan sperma dan pengeluaran telur.
    1. Penyuntikkan dengan ovaprim
Penyuntikkan adalah kegiatan memasukkan hormon perangsang ke tubuh induk betina. Hormon perangsang yang digunakan adalah ovaprim. Caranya, siapkan induk betina yang sudah matang gonad; sedot 0,3 mil ovaprim untuk setiap kilogram induk; suntikkan ke dalam tubuh induk tersebut; masukkan induk yang sudah disuntik ke dalam bak lain dan biarkan selama 10 jam.
    1. Penyuntikkan dengan hypofisa
Penyuntikkan bisa juga dengan ekstrak kelenjar hypofisa ikan mas atau lele dumbo. Caranya siapkan induk betina yang sudah matang gonad ; siapkan 1,5 kg ikan mas ukuran 0,5 kg; potong ikan mas tersebut secara vertikal tepat di belakang tutup insang; potong bagian kepala secara horizontal tepat dibawah mata; buang bagian otak; ambil kelenjar hypofisa; masukkan ke dalam gelas penggerus dan hancurkan; masukkan 1 cc aquabides dan aduk hingga rata; sedot larutan hypofisa itu; suntikkan ke dalam tubuh induk betina; masukkan induk yang sudah disuntik ke bak lain dan biarkan selama 10 jam.
    1. Pengambilan Sperma
Setengah jam sebelum pengeluaran tleur; sperma harus disiapkan. Caranya:
1. Tangkap induk jantan yang sudah matang kelamin
2. Potong secara vertikal tepat di belakang tutup insang
3. Keluarkan darahnya
4. Gunting kulit perutnya mulai dari anus hingga belakang insang
5. Buang organ lain di dalam perut
6. Ambil kantung sperma
7. Bersihkan kantung sperma dengan tisu hingga kering
8. Hancurkan kantung sperma dangan cara menggunting bagian yang paling banyak
9. Peras spermanya agar keluar dan masukkan ke dalam cangkir yang telah diisi 50 ml (setengah gelas) aquabides
10. Aduk hingga homogen.
2.5. Pengeluaran Telur
Pengeluaran telur dilakukan setelah 10 jam dari peyuntikkan, namun 9 jam sebelumnya diadakan pengecekkan.
Cara pengeluaran telur:
1. Siapkan 3 buah baskom plastik, 1 botol Natrium Chlorida (infus), sebuah bulu ayam, kain lap dan tisu
2. Tangkap induk dengan sekup net
3. Keringkan tubuh induk dengan lap
4. Bungkus induk dengan lap dan biarkan lubang telur terbuka
5. Pegang bagian kepala oleh satu orang dan pegang bagian ekor oleh yang lainnya
6. Pijit bagian perut ke arah lubang telur
7. Tampung telur dalam baskom plastic
8. Campurkan larutan sperma ke dalam telur
9. Aduk hingga rata dengan bulu ayam
10. Tambahkan Natrium Chlorida dan aduk hingga rata
11. Buang cairan itu agar telur-telur bersih dari darah
12. Telus siap ditetaskan.
2.6. Penetasan
Penetasan lele sangkuriang dimasukkan ke dalam bak tembok. Caranya :
1. Siapkan sebuah bak tembok ukuran panjang 2 m, lebar 1 m dan tinggi 0,4 m
2. Keringkan selama 2-4 hari
3. Isi bak tersebut dengan air setinggi 30 cm dan biarkan air mengalir selama penetasan
4. Pasang hapa halus yang ukurannya sama dengan bak
5. Beri pemberat agar hapa tenggelam (misalnya kawat behel yang diberi selang atau apa saja
6. Tebarkan telur hingga merata ke seluruh permukaan hapa
7. Biarkan telur menetas dalam 2-3 hari.
Penetasan telur sebaiknya dilakukan pada air yang mengalir untuk menjamin ketersediaan oksigen terlarut dan penggantian air yang kotor akibat pembusukan telur yang tidak terbuahi. Peningkatan oksigen terlarut dapat pula diupayakan dengan pemberian aerasi.
Telur lele sangkuriang menetas 30-36 jam setelah pembuahan pada suhu 22-25 0C. Larva lele yang baru menetas memiliki cadangan makanan berupa kantung telur (yolksack) yang akan diserap sebagai sumber makanan bagi larva sehingga tidak perlu diberi pakan. Penetasan telur dan penyerapan yolksack akan lebih cepat terjadi pada suhu yang lebih tinggi. Pemeliharaan larva dilakukan dalam hapa penetasan. Pakan dapat mulai diberikan setelah larva berumur 4-5 hari atau ketika larva sudah dapat berenang dan berwarna hitam.
III. MANAJEMEN KESEHATAN DAN LINGKUNGAN
Kegiatan budidaya lele sangkuriang di tingkat pembenih/pembudidaya sering dihadapkan pada permasalahan timbulnya penyakit atau kematian ikan. Pada kegiatan pembenihan, penyakit banyak ditimbulkan oleh adanya serangan organisme pathogen sedangkan pada kegiatan pembesaran, penyakit biasanya terjadi akibat buruknya penanganan kondisi lingkungan.
Kegagalan pada kegiatan pembenihan ikan lele dapat diakibatkan oleh serangan organisme predator (hama) ataupun organisme pathogen (penyakit). Organisme predator yang biasanya menyerang antara lain insekta, ular, atau belut. Serangan lebih banyak terjadi bila pendederan benih dilakukan di kolam tanah dengan menggunakan pupuk kandang. Sedangkan organisme pathogen yang lebih sering menyerang adalah Ichthiopthirius sp, Trichodina sp, Dacttylogyrus sp, dan Aeromonas hydrophyla.
Penanggulangan hama insekta dapat dilakukan dengan pemberian insektisida yang direkomendasikan pada saat pengisian air sebelum benih ditanam. Sedangkan penanggulangan belut dapat dilakukan dengan pembersihan pematang kolam dan pemasangan kolam di sekeliling kolam.
Penanggulangan organisme pathogen dapat dilakukan dengan manajemen lingkungan budidaya yang baik dan pemberian pakan yang teratur dan mencukupi. Bila serangan sudah terjadi,benih harus dipanen untuk diobati. Pengobatan dapat menggunakan obat-obatan yang direkomendasikan.
Manajemen lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan persiapan kolam dengan baik. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan kolam dan tanah, persiapan kolam meliputi pengeringan, pembalikan tanah, perapihan pematang, pengapuran, pemupukan, pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan bak tembok atau bak plastik, persiapan kolam meliputi pengeringan, disinfeksi (bila diperlukan), pemupukan, pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Perbaikan kondisi air kolam dapat pula dilakukan dengan penambahan probiotik.

CARA Pintas Dan PINTAR BUDIDAYA CACING SUTRA

0 komentar

Bentuk tubuh cacing ini menyerupai rambut dengan panjang badan antara 1-3cm dengan tubuh berwarna merah kecoklatan dengan ruas-ruas. Cacing ini hidup dengan membentuk koloni di perairan jernih yang kaya bahan organik. Cacing ini meiliki 57% protein dan 13% lemak dalam tubuhnya.


Cacing sutra merupakan hewan hermaprodit yang berkembang biak
lewat telur secara eksternal. Telur yang dibuahi oleh jantan akan membelah
menjadi dua sebelum menetas.

Bahan organik yang baik untuk digunakan oleh cacing sutra adalah
campuran antara kotoran ayam, dedak (bekatul) dan lumpur. Berikut teknik budidaya cacing sutra:

1. Persiapan Bibit
Bibit bisa dibeli dari toko ikan hias atau diambil dari alam
Note: Sebaiknya bibit cacing di karantina dahulu karena ditakutkan
membawa bakteri patogen.

2. Persiapan Media
Media perkembangan dibuat sebagai kubangan lumpur dengan ukuran 1 x 2 meter yang dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran air. Tiap tiap kubangan dibuat petakan petakan kecil ukuran 20 x 20 cm dengan tinggi bedengan atau tanggul 10 cm, antar bedengan diberi lubang dengan diameter 1 cm.

3. Pemupukan
Lahan di pupuk dengan dedak halus atau ampas tahu sebanyak 200 – 250 gr/M2 atau dengan pupuk kandang sebanyak 300 gr/ M2.

4. Fermentasi
Lahan direndam dengan air setinggi 5 cm selama 3-4 hari.

5. Penebaran Bibit
Selama Proses Budidaya lahan dialiri air dengan debit 2-5 Liter / detik

6. Tahapan Kerja Budidaya Cacing Sutra
Cacing sutra atau cacing rambut memang telah sejak lama dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pakan ikan. Harga jual yang relatif tinggi, membuat bisnis cacing sutra cukup banyak dilirik orang.

Namun sayangnya, tidak banyak orang yang memahami teknis pembudidayaan cacing sutra ini. Berikut tahapan kerja yang harus dilakukan dalam pembudidayaan cacing sutra.

• Lahan uji coba berupa kolam tanah berukuran 8 x 1,5 m dengan kedalaman 30 cm. Dasar kolam uji coba ini hanya diisi dengan sedikit lumpur.

• Apabila matahari cukup terik, jemur kolam minimum sehari. Bersamaan dengan itu, kolam dibersihkan dari rumput atau hewan lain yang berpotensi menjadi hama bagi cacing sutra, seperti keong mas atau kijing.

. Pipa air keluar atau pipa pengeluaran dicek kekuatannya dan pastikan berfungsi dengan baik. Pipa pengeluaran ini sebaiknya terbuat dari bahan paralon berdiameter 2 inci dengan panjang sekitar 15 cm.

. Usai pengeringan dan penjemuran, usahakan kondisi dasar kolam bebas dari bebatuan dan benda-benda keras lainnya.

Hendaknya konstruksi tanah dasar kolam relatif datar atau tidak bergelombang.

. Dasar kolam diisi dengan lumpur halus yang berasal dari saluran atau kolam yang dianggap banyak mengandung bahan organik hingga ketebalan dasar lumpur mencapai 10 cm.

. Tanah dasar yang sudah ditambahi lumpur diratakan, sehingga benar-benar terlihat rata dan tidak terdapat lumpur yang keras.

. Untuk memastikannya, gunakan aliran air sebagai pengukur kedataran permukaan lumpur tersebut. Jika kondisinya benar-benar rata, berarti kedalaman air akan terlihat sama di semua bagian.

. Masukkan kotoran ayam kering sebanyak tiga karung ukuran kemasan pakan ikan, kemudian sebar secara merata dan selanjutnya bisa diaduk-aduk dengan kaki.

. Setelah dianggap datar, genangi kolam tersebut hingga kedalaman air maksimum 5 cm, sesuai panjang pipa pembuangan.

. Pasang atap peneduh untuk mencegah tumbuhnya lumut di kolam.

. Kolam yang sudah tergenang air tersebut dibiarkan selama satu minggu agar gas yang dihasilkan dari kotoran ayam hilang. Cirinya, media sudah tidak beraroma busuk lagi.

. Tebarkan 0,5 liter gumpalan cacing sutra dengan cara menyiramnya terlebih dahulu di dalam baskom agar gumpalannya buyar.

. Cacing sutra yang sudah terurai ini kemudian ditebarkan di kolam budi daya ke seluruh permukaan kolam secara merata.

. Seterusnya atur aliran air dengan pipa paralon berukuran 2/3 inci.

7. Panen
Cacing Bisa dipanen setelah 8-10 hari.

PRINCIPLES OF POND FISH CULTURE

0 komentar


PRINCIPLES OF POND FISH CULTURE

1. Fish are dependent for food directly or indirectly on plants.
2. The weight of fish which can be produced in natural waters is dependent upon the ability of the water to raise the plants. We could increase production by adding plant organic matter produced elsewhere.
3. The ability of water to produce plants is dependent upon sunshine, temperature, CO2, Mineral from soil or rocks, nitrogen (NO3- and NH4-) , O2 and water.
4. The Natural fertility of the water is dependent on the fertility of the soil in pond bottom and watershed.

5. Fertlity of water can be increased by adding inorganic fertilizers.
6. After adding all essential minerals and all available nitrogen, the next limiting factor is CO2. This compound can be increased by adding organic matter followed by liming (Ca, Mg).
7. The next limiting factor in fish production, after mineral and CO2 are provided, is oxygen demand of all living and dead organisms in the water. This can be supplied by running water rich in oxygen or pumping water from the bottom and aerate it. If oxygen in the water falls below 1.0 ppm, fish die. One ppm oxygen is enough for fish in resting condition, but for active fish, 3.0 ppm is needed.

8. Microscopic plants (planktonic algae) are the principal food producing plants for fishes.
9. Microscopic plants are the most desirable, because : (a) short life cycle, (b) mobility, (c) more nutritious, and (d) small size.
10. Rooted plants are less desirable, because: (a) long life, (b) immobility, (c) less nutritious, (d) large size, and (e) shading effect.
11. a. The more fertile the water the heavier the plankton concetration becomes, the more shallow becomes light penetration and photosynthesis. b. Heavy plankton concetration in top water causes shallow stratification and low oxygen or none in deeper water. Strong wind, or heavy cold rain causes overtum, causing trouble to the fish. Water with no oxygen spread too fast and could kill the fish. Heavy plankton can be killed by the use of CuSO4. Light can penetrate deeper, so does the production of oxygen. c. the deeper the fertile lake or pond (heavy plankton) the higher the precentage of the total volume of water deficient of oxygen during period of stratification.

12. Rooted plants are desitable, in part, in waters of low fertility, because : (1) Oxygenate deep water as far down and light penetrates, (2) draw nutrients from pond bottom soil, (3) prevent marginal erosion, (4) provide surface for food organisms, and (5) provide food for fish derectly or indirectly.
13. The longer the food chain from plant to fish the lower the production of fish obtained. The conversion rate from: Plant to fish = 5 – 10 Plant to insect = 5 – 10 Insect to fish = 3 – 10 fish to fish = 2 – 5
14. At a given level of fertility the fish production is constant for a particular species and a certain rate of stocking. The total pound/acre is dependent upon the number of fish present and the size harvested. Small fish produce high number of lbs/acre, and large ones produce small number of lbs/acre.
15. For short period of time we can regulate number ( and final size) by the number stocked. This can be done by frequent draining before the fish are old enough to spawn. For non spawner there would be no difficulity. Mortality rate can be up to 20 percent a year.
16. For long period of time the number of fish and sizes must be controlled by biological methods such as: 1. Repression - prevents reproduction, e.g. carp. 2. Predation - method of controlling the number of young fish. 3. Starvation - this could lead to weakning of fish, thus vulnerable to disease and parasites. 4. Limited spawing area


17. The greatest total weight to any one forage species (for short periode of time for piscivorous fish) can be produced in waters containing only that species.
18. The greatest total weight of fish can be produced by combination of forage fish differing in feeding habits.
19. The presence of piscivorous species decreases the total weight or fish, decreases the number of fish, but increases the average size.
20. The rate of feeding required to maintain a fish is less than the rate required for growth.
21. The amount of food required to maintain one-pound fish for one year is equal to the feed required to raise the fish to one pound.
22. A population of fish at a given level of food abundance will tend to expand until harvestable food equals the amount required for maintenance.
23. Feeding at maintenance is uneconomical for extended periods. Feeding to satiety is uneconomical too. Econimical feeding rate varies with the size of fish.
24. Economical feeding rate per acre is limited by the eficiency of the ecological system in waste disposal and reoxygenation.
25. High quality feeds must contain in proper proportion; protein for building fish flesh carbohydrate and fat for energy, minerals for contruction and regulation, and vitamins for regulation of life processes.
26. Quality of feed influences (a) the amount of waste, (b) health of fish, and (c) rate of growth.
27. By increasing feeding rate the stocking rate of fish can be increased. This could increase the incidence of parasites and diseases.
28. Within limits regulation of feeding rates can replace predation in obtaining a high percentage of harvestable fish.
29. Rates of growth of fish vary widely and are dependent upon : (a) their ability to grow, (b) the quality of feed, (c) space – waste disposal system, (d) temperature, (e) the amount of feed per individual.
30. Minimum age at spawning is dependent upon rate of growth.

H.S. SWINGLE Auburn University

POPULASI ARWANA SUPER RED BERTAMBAH

0 komentar


Populasi Arwana Super Red Bertambah

PELEPASLIARAN arwana super red (Scleropages formosus) di Danau Empangau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, mulai membuahkan hasil. Sebanyak 35 ekor anakan arwana dipanen warga setempat dari habitat alam tersebut selama dua bulan terakhir.

Anakan berukuran panjang rata-rata 5 sentimeter itu hasil pelepasliaran induk arwana ke danau lindung tersebut beberapa waktu lalu. "Kegiatan (pelepasliaran) yang disaksikan masyarakat setempat itu untuk Restocking," kata Hermayani Putera, Manajer WWF Indonesia Program Kalimantan Barat. kemarin.

Hasil panen kali ini dipastikan terus bertambah karena musim penangkapan anakan arwana berlangsung hingga April tahun depan. Sebagai gambaran ada 192 anak arwana yang dipanen warga dari Danau Empangau sepanjang 2004-2009, atau rata-rata 32 anakan setiap tahun. "Ini wujud konkret dari penerapan Green Economy di kabupaten konservasi pada tingkat lapangan," jelasnya

Sumber: MEDIA INDONESIA Tanggal 28 Desember 2012 Hal.10

Pemberian Daun Sente pada Ikan Gurame

0 komentar


Pemberian Daun Sente pada Ikan Gurame 
 
Daun sente (Alocasia macrorrhiza (L) Schott) sebagai pakan ikan Gurame memiliki kandungan senyawa saponin, flavonoid, dan polifenol yang terdapat pada bagian  tangkai dan daun sente. Khasiat dari Kandungan senyawa saponin, flavonoid, dan polifenol tersebut dapat meningkatkan daya tahan ikan terhadap serangan penyakit, terutama untuk penyakit yang biasa menyerang ikan gurame seperti bisulan dan mata yang belo.
Banyak para pembudidaya ikan gurame yang memberikan  pakan hijauan berupa daun sente. 
pemberian daun sente ini sebaiknya dipisah antara daun dan tangkainya. 
Daun sente diberikan secara langsung kepada ikan gurame. untuk pemberian pada tangkai sente  terlebih dahulu diiris tipis-tipis  agar tangkai dapat seluruhnya dimakan oleh ikan gurame, karena cara makan gurame adalah dengan menyabik makanannya.
          
daun Sente baik untuk diberikan sebagai pakan tambahan selain pelet. 

Entri Populer